Jumat, 02 Desember 2016

HASIL PRAKTIKUM KOROSI TERHADAP PAKU

KATA PENGANTAR

            Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang selalu melimpahkan karunia-Nya, kepada seluruh umat manusia, yang atas izin-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan penelitian ini yang berjudul “KOROSI” ini dapat selesai tepat pada  waktunya.
            Sejalan dengan dinamika bangsa ini masih terus mencari cara yang lebih efektif untuk menghasilkan generasi baru yang cerdas, maka dari itu penulis mendukung semua itu dengan cara mencari sesuatu yang jarang ditampilkan dan banyak dipertanyakan salah satunya dengan membuat makalah ini, yang dapat bermanfaat dengan berbagai pokok masalah.
            Dengan adanya makalah ini, mudah-mudahan dapat mengembangkan pengetahuan sains khususnya kimia para kaum pelajar untuk lebih maju dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
            Kemudian tak lupa kami tuturkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan membimbing penulis, kepada :
Pembimbing kami, Dra. Wahidah Arsjad
            Saya sadar bahwa penelitian ilmiah yang penulis buat ini, masih banyak memiliki kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran dari berbagai pihak untuk perbaikan isi penelitian ini, kami sambut  dengan senang hati.




                                                                                    Makassar, 3 November 2016


 KATA PE

            Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang selalu melimpahkan karunia-Nya, kepada seluruh umat manusia, yang atas izin-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan penelitian ini yang berjudul “KOROSI” ini dapat selesai tepat pada  waktunya.
            Sejalan dengan dinamika bangsa ini masih terus mencari cara yang lebih efektif untuk menghasilkan generasi baru yang cerdas, maka dari itu penulis mendukung semua itu dengan cara mencari sesuatu yang jarang ditampilkan dan banyak dipertanyakan salah satunya dengan membuat makalah ini, yang dapat bermanfaat dengan berbagai pokok masalah.
            Dengan adanya makalah ini, mudah-mudahan dapat mengembangkan pengetahuan sains khususnya kimia para kaum pelajar untuk lebih maju dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
            Kemudian tak lupa kami tuturkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan membimbing penulis, kepada :
Pembimbing kami, Dra. Wahidah Arsjad
            Saya sadar bahwa penelitian ilmiah yang penulis buat ini, masih banyak memiliki kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran dari berbagai pihak untuk perbaikan isi penelitian ini, kami sambut  dengan senang hati.

                                                                                    Penulis





DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................................   1
DAFTAR ISI .............................................................................................................................................  2

BAB I   PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang.......................................................................................................................... 3   
B.      Rumusan Masalah .................................................................................................................. 3  
C.      Manfaat ....................................................................................................................................... 3  
  
BAB II  KAJIAN TEORITIS
A.      Pengertian Korosi .................................................................................................................. 4
B.      Penyebab Korosi .................................................................................................................... 4
C.      Mekanisme / Proses Terjadinya Korosi pada Besi .................................................. 7
D.     Dampak Korosi ........................................................................................................................ 8
E.      Pengendalian / Cara Pencegahan Korosi...................................................................... 9
BAB III  METODE PENELITIAN
A.      Alat dan Bahan ....................................................................................................................... 12
B.      Cara kerja ................................................................................................................................. 12
C.      Waktu dan Tempat ............................................................................................................... 12

BAB IV  HASIL DAN PEMBAHASAN
A.      Hasil ............................................................................................................................................ 13
B.      Pembahasan ............................................................................................................................ 13

BAB V  PENUTUP
A.      Kesimpulan .............................................................................................................................. 14
B.      Saran ........................................................................................................................................... 15
C.      Lampiran ................................................................................................................................... 16











BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
     Dalam bahasa sehari-hari korosi dikenal dengan perkaratan yakni sesuatu yang hampir dianggap sebagai musuh umum masyarakat. Karat adalah sebutan bagi korosi pada besi, padahal korosi merupakan gejala destruktif yang mempengaruhi hampir semua logam. Besi adalah salah satu dari banyak jenis logam yang mengalami korosi, tidak perlu diingkari bahwa logam itu paling awal menimbulkan korosi serius. Karena itu tidak mengherankan bila istilah korosi dan karat hampir dianggap sama. Korosi dikenal merugikan karena bersifat merusak logam dan membahayakan. Oleh karena itu, dengan pentingnya mempelajari pencegahan korosi, percobaan kali ini difokuskan oleh masalah tersebut dan akan dipaparkan hal apa sajakah yang dapat menghambat terjadinya korosi.

B.     Tujuan Praktikum
                        Praktikum ini bertujuan untuk :
1.      Mengetahui paku pada gelas manakah yang menjadi berkarat.
2.      Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan paku berkarat.
3.      Cara pencegahan korosi pada besi.

C.      Manfaat
     Dengan dilakukannya penelitian ini, maka diharapakan akan diperoleh manfaat sebagai berikut :
1.      Dapat mengetahui sifat dari berbagai bahan terhadap besi.
2.      Dapat menambah informasi mengenai korosi (karat).
3.      Dapat melatih siswa agar terampil dalam melakukan kegiatan praktikum.






BAB II
KAJIAN TEORITIS
A.   Pengertian Korosi
          Korosi merupakan proses perubahan logam menjadi senyawa, terutama terjadi dalam dalam lingkungan yang mengandung air atau peristiwa teroksidasinya suatu logam oleh gas oksigen di udara. Korosi adalah kerusakan atau degradasi logam akibat reaksi redoks antara suatu logam dengan berbagai zat di lingkungannya yang menghasilkan senyawa-senyawa yang tidak dikehendaki. Dalam bahasa sehari-hari, korosi disebut perkaratan. Contoh korosi yang paling lazim adalah perkaratan besi.       
             Pada peristiwa korosi, logam mengalami
oksidasi, sedangkan oksigen (udara) mengalami reduksi. Karat logam umumnya adalah berupa oksida atau karbonat. Rumus kimia karat besi adalah Fe2O3.nH2O, suatu zat padat yang berwarna coklat-merah.        
           Korosi merupakan proses
elektrokimia. Pada korosi besi, bagian tertentu dari besi itu berlaku sebagai anode, di mana besi mengalami oksidasi.
Fe(s) <--> Fe2+(aq) + 2e           
Elektron yang dibebaskan di anode mengalir ke bagian lain dari besi itu yang bertindak sebagai
katode, di mana oksigen tereduksi.
O2(g) + 4H+(aq) + 4e <--> 2H2O(l)  atau O2(g) + 2H2O(l) + 4e <--> 4OH-(aq)
            Ion besi(II) yang terbentuk pada anode selanjutnya teroksidasi membentuk ion besi(III) yang kemudian membentuk senyawa oksida terhidrasi, yaitu karat besi. Mengenai bagian mana dari besi itu yang bertindak sebagai anode dan bagian mana yang bertindak sebagai katode, bergantung pada berbagai faktor, misalnya zat pengotor atau perbedaan rapatan logam itu.
            Korosi dapat juga diartikan sebagai serangan yang merusak logam karena logam bereaksi secara
kimia atau elektrokimia dengan lingkungan. Ada definisi lain yang mengatakan bahwa korosi adalah kebalikan dari proses ekstraksi logam dari bijih mineralnya. Contohnya, bijih mineral logam besi di alam bebas ada dalam bentuk senyawa besi oksida atau besi sulfida, setelah diekstraksi dan diolah, akan dihasilkan besi yang digunakan untuk pembuatan baja atau baja paduan. Selama pemakaian, baja tersebut akan bereaksi dengan lingkungan yang menyebabkan korosi (kembali menjadi senyawa besi oksida).
                Deret Volta dan hukum Nernst akan membantu untuk dapat mengetahui kemungkinan terjadinya korosi. Kecepatan korosi sangat tergantung pada banyak faktor, seperti ada atau tidaknya lapisan oksida, karena lapisan oksida dapat menghalangi beda potensial terhadap elektroda lainnya yang akan sangat berbeda bila masih bersih dari oksida.

B.     Penyebab Korosi
               Faktor – faktor yang menyebabkan terjadinya korosi, yaitu:
1.      Uap air
      Dilihat dari reaksi yang terjadi pada korosi, air merupakan salah satu faktor penting untuk berlangsungnya proses korosi. Udara yang banyak mengandung uap air (lembab) akan mempercepat berlangsungnya proses korosi.
2.      Oksigen
      Udara yang banyak mengandung gas oksigen akan menyebabkan terjadinya korosi. Korosi besi terjadi apabila ada oksigen (O2) dan air (H2O).  Logam besi tidaklah murni, melainkan mengandung campuran karbon yang menyebar secara tidak merata dalam logam tersebut. Akibatnya menimbulkan perbedaan potensial listrik antara atom logam dengan atom karbon (C). Atom logam besi (Fe) bertindak sebagai anode dan atom C sebagai katode. Oksigen dari udara yang larut dalam air akan tereduksi, sedangkan air sendiri berfungsi sebagai media tempat berlangsungnya reaksi redoks pada peristiwa korosi. Semakin banyak jumlah O2 dan H2O yang mengalami kontak dengan permukaan logam, maka semakin cepat berlangsungnya korosi pada permukaan logam tersebut.
3.      Larutan Garam
      Elektrolit (asam atau garam) merupakan media yang baik untuk melangsungkan transfer muatan. Air hujan banyak mengandung asam, dan air laut banyak mengandung garam, maka air hujan dan air laut merupakan korosi yang utama.
4.      Permukaan logam
      Permukaan logam yang tidak rata memudahkan terjadinya kutub-kutub muatan, yang akhirnya akan berperan sebagai anode dan katode. Permukaan logam yang licin dan bersih akan menyebabkan korosi sukar terjadi, sebab sukar terjadi kutub-kutub yang akan bertindak sebagai anode dan katode.
5.      Keberadaan zat pengotor
      Zat Pengotor di permukaan logam dapat menyebabkan terjadinya reaksi reduksi tambahan sehingga lebih banyak atom logam yang teroksidasi. Sebagai contoh, adanya tumpukan debu karbon dari hasil pembakaran BBM pada permukaan logam mampu mempercepat reaksi reduksi gas oksigen pada permukaan logam. Dengan demikian peristiwa korosi semakin dipercepat.


6.      Kontak dengan elektrolit
      Keberadaan elektrolit, seperti garam dalam air laut dapat mempercepat laju korosi dengan menambah terjadinya reaksi tambahan. Sedangkan konsentrasi elektrolit yang besar dapat melakukan laju aliran elektron sehingga korosi meningkat.
7.      Temperatur
      Temperatur mempengaruhi kecepatan reaksi redoks pada peristiwa korosi. Secara umum, semakin tinggi temperatur maka semakin cepat terjadinya korosi. Hal ini disebabkan dengan meningkatnya temperatur maka meningkat pula energi kinetik partikel sehingga kemungkinan terjadinya tumbukan efektif pada reaksi redoks semakin besar. Dengan demikian laju korosi pada logam semakin meningkat. Efek korosi yang disebabkan oleh pengaruh temperatur dapat dilihat pada perkakas-perkakas atau mesin-mesin yang dalam pemakaiannya menimbulkan panas akibat gesekan atau dikenai panas secara langsung (seperti mesin kendaraan bermotor).
8.      Tingkat keasaman (pH)
      Peristiwa korosi pada kondisi asam, yakni pada kondisi pH < 7 semakin besar, karena adanya reaksi reduksi tambahan yang berlangsung pada katode yaitu:
                  2H+(aq) + 2e- → H2
Adanya reaksi reduksi tambahan pada katode menyebabkan lebih banyak atom logam yang teroksidasi sehingga laju korosi pada permukaan logam semakin besar.
9.      Metalurgi
·         Permukaan logam.
      Permukaan logam yang lebih kasar akan menimbulkan beda potensial dan memiliki kecenderungan untuk menjadi anode yang terkorosi.Permukaan logam yang kasar cenderung mengalami korosi.
·         Efek galvanic coupling
      Kemurnian logam yang rendah mengindikasikan banyaknya atom-atom unsur lain yang terdapat pada logam tersebut sehingga memicu terjadinya efek Galvanic Coupling , yakni timbulnya perbedaan potensial pada permukaan logam akibat perbedaan E° antara atom-atom unsur logam yang berbeda dan terdapat pada permukaan logam dengan kemurnian rendah. Efek ini memicu korosi pada permukaan logam melalui peningkatan reaksi oksidasi pada daerah anode.
10.  Mikroba
      Adanya koloni mikroba pada permukaan logam dapat menyebabkan peningkatan korosi pada logam. Hal ini disebabkan karena mikroba tersebut mampu mendegradasi logam melalui reaksi redoks untuk memperoleh energi bagi keberlangsungan hidupnya. Mikroba yang mampu menyebabkan korosi, antara lain: protozoa, bakteri besi mangan oksida, bakteri reduksi sulfat, dan bakteri oksidasi sulfur-sulfida.
C.      Mekanisme / Proses Terjadinya Korosi pada Besi
            Besi merupakan bahan utama untuk berbagai konstruksi maka pengendalian korosi menjadi sangat penting. Untuk dapat mengendalikan korosi tentu harus memahami bagaimana mekanisme korosi pada besi. Korosi tergolong proses elektrokimia, seperti yang ditunjukkan pada Gambar.
Description: korosi
Gambar. Proses korosi pada besi.

           
            Besi memiliki permukaan tidak halus akibat komposisi yang tidak sempurna, juga akibat perbedaan tegangan permukaan yang menimbulkan potensial pada daerah tertentu lebih tinggi dari daerah lainnya. Pada daerah anodik (daerah permukaan yang bersentuhan dengan air) terjadi pelarutan atom-atom besi disertai pelepasan elektron membentuk ion Fe2+ yang larut dalam air.
Fe(s) → Fe2+(aq) + 2e
Elektron yang dilepaskan mengalir melalui besi, sebagaimana elektron mengalir melalui rangkaian luar pada sel volta menuju daerah katodik hingga terjadi reduksi gas oksigen dari udara:
O2(g) + 2H2O(g) + 2e → 4OH(aq)
Ion Fe2+ yang larut dalam tetesan air bergerak menuju daerah katodik, sebagaimana ion-ion melewati jembatan garam dalam sel volta dan bereaksi dengan ion-ion OH membentuk Fe(OH)2. Fe(OH)2 yang terbentuk dioksidasi oleh oksigen membentuk karat.
Fe2+(aq) + 4OH(aq) → Fe(OH)2(s)
2Fe(OH)2(s) + O2(g) → Fe2O3.nH2O(s)
Reaksi keseluruhan pada korosi besi adalah sebagai berikut (lihat mekanisme pada gambar)

4Fe(s) + 3O2(g) + n H2O(l)
2Fe2O3.nH2O(s)


Karat

Akibat adanya migrasi ion dan elektron, karat sering terbentuk pada daerah yang agak jauh dari permukaan besi yang terkorosi (lubang). Warna pada karat beragam mulai dari warna kuning hingga cokelat merah bahkan sampai berwarna hitam. Warna ini bergantung pada jumlah molekul H2O yang terikat pada karat.
Description: Mekanisme korosi pada besi
Gambar. Mekanisme korosi pada besi.

            Emas dengan potensial reduksi standar 1,5 V lebih besar dibandingkan potensial reduksi standar gas O2 (1,23 V) sehingga emas tidak terkorosi di udara terbuka. Di alam emas terdapat sebagai logam murni.

D.     Dampak Dari Korosi
            Karatan adalah logam yang mengalami kerusakan berbentuk keropos. Sedangkan bagian logam yang rusak dan berwarna hitam kecoklatan pada besi/baja disebut karat. Secara teoritis karat adalah istilah yang diberikan terhadap satu jenis logam saja yaitu baja/besi, sedangkan secara umum istilah karat lebih tepat dikatakan korosi . Korosi didefinisikan sebagai degradasi material (khususnya logam dan paduannya) atau sifatnya akibat berinteraksi dengan lingkungannya. Korosi merupakan merupakan proses atau reaksi elektrokimia yang  bersifat alamiah dan berlangsung dengan sendirinya, oleh karena itu korosi tidak dapat dicegah atau dihentikan sama sekali. Korosi hanya  bisa dikendalikan atau diperlambat lajunya sehingga memperlambat pengkaratan. Dilihat dari aspek elektrokimianya, korosi merupakan proses terjadinya transfer elektron dari dari logam kelingkungannya. Logam berlaku  sebagai sel yang memberikan elektron dan lingkungannya sebagai penerima  elektron. Reaksi yang terjadi pada logam yang mengalami korosi adalah reaksi oksidasi, dimana atom-atom logam larut kelingkungannya menjadi ion-ion dengan melepaskan elektron pada logam tersebut. Sedangkan dari katoda terjadi reaksi dimana ion-ion dari lingkungan mendakati ion logam dan menangkap elektron-elektron yang teringal pada logam. Dampak yang ditimbulkan korosi sungguh luar biasa.
            Dampak yang ditimbulkan korosi dapat berupa kerugian langsung dan tidak langsung. Kerugian langsung dapat berupa terjadinya kerusakan pada peralatan, permesinan atau struktur bangunan. Sedangakan kerugian tidak langsung, berupa terhentinya produktifitas/ aktifitas produksi, karena terjadinya pergantian peralatan yang rusak kaibat korosi, kehilangan produk akibat adanya kerusakan pada kontainer, tangki bahan bakar atau jaringan pipa air bersih atau minyak mentah, terakumulasinya produk korosi pada alat penukar panas dan jaringan pemipaannya akan menurunkan efisiensi perpindahan panas dan lain sebagainya. Berdasarkan kondisi lingkungannya, korosi dapat diklasifikasikan sebagai korosi basah yaitu korosi yang terjadi dilingkungan air, dan korosi atmosferik yang terjadi di udara terbuka. Dan korosi temperatur tinggi yaitu korosi yang terjadi dilingkungan bertemperatur diatas 5000C.
E.      Pengendalian / Cara Pencegahan Korosi
            Korosi logam tidak dapat dicegah, tetapi dapat dikendalikan seminimal mungkin. Ada tiga metode umum untuk mengendalikan korosi, yaitu pelapisan (coating), proteksi katodik, dan penambahan zat inhibitor korosi.
·         Metode Pelapisan (Coating)
           Metode pelapisan adalah suatu upaya mengendalikan korosi dengan menerapkan suatu lapisan pada permukaan logam besi. Misalnya, dengan pengecatan atau penyepuhan logam. Penyepuhan besi biasanya menggunakan logam krom atau timah. Kedua logam ini dapat membentuk lapisan oksida yang tahan terhadap karat (pasivasi) sehingga besi terlindung dari korosi. Pasivasi adalah pembentukan lapisan film permukaan dari oksida logam hasil oksidasi yang tahan terhadap korosi sehingga dapat mencegah korosi lebih lanjut.
Logam seng juga digunakan untuk melapisi besi (galvanisir), tetapi seng tidak membentuk lapisan oksida seperti pada krom atau timah, melainkan berkorban demi besi. Seng adalah logam yang lebih reaktif dari besi, seperti dapat dilihat dari potensial setengah reaksi oksidasinya:

Zn(s) → Zn2+(aq) + 2e
Eo = –0,44 V
Fe(s) → Fe2+(g) + 2e
Eo = –0,76 V
Oleh karena itu, seng akan terkorosi terlebih dahulu daripada besi. Jika pelapis seng habis maka besi akan terkorosi bahkan lebih cepat dari keadaan normal (tanpa seng). Paduan logam juga merupakan metode untuk mengendalikan korosi. Baja stainless steel terdiri atas baja karbon yang mengandung sejumlah kecil    krom dan nikel. Kedua logam tersebut membentuk lapisan oksida yang    mengubah potensial reduksi baja menyerupai sifat logam mulia sehingga         tidak terkorosi.

·         Proteksi Katodik
           Proteksi katodik adalah metode yang sering diterapkan untuk mengendalikan korosi besi yang dipendam dalam tanah, seperti pipa ledeng, pipa pertamina, dan tanki penyimpan BBM. Logam reaktif seperti magnesium dihubungkan dengan pipa besi. Oleh karena logam Mg merupakan reduktor yang lebih reaktif dari besi, Mg akan teroksidasi terlebih dahulu. Jika semua logam Mg sudah menjadi oksida maka besi akan terkorosi. Proteksi katodik ditunjukkan pada Gambar.
Description: Proses katodik
Gambar. Proses katodik dengan menggunakan logam Mg.
            Reaksi yang terjadi dapat ditulis sebagai berikut.
Anode
:
2Mg(s) → 2Mg2+(aq) + 4e
Katode
:
O2(g) + 2H2O(l) + 4e → 4OH(aq)
Reaksi
:
2Mg(s) + O2(g) + 2H2O → 2Mg(OH)2(s)
Oleh sebab itu, logam magnesium harus selalu diganti dengan yang baru dan selalu diperiksa agar jangan sampai habis karena berubah menjadi hidroksidanya.

·         Penambahan Inhibitor
           Inhibitor adalah zat kimia yang ditambahkan ke dalam suatu lingkungan korosif dengan kadar sangat kecil (ukuran ppm) guna mengendalikan korosi. Inhibitor korosi dapat dikelompokkan berdasarkan mekanisme pengendaliannya, yaitu inhibitor anodik, inhibitor katodik, inhibitor campuran, dan inhibitor teradsorpsi.
Ø  Inhibitor Anodik
Inhibitor anodik adalah senyawa kimia yang mengendalikan korosi dengan cara menghambat transfer ion-ion logam ke dalam air. Contoh inhibitor anodik yang banyak digunakan adalah senyawa kromat dan senyawa molibdat.
Ø  Inhibitor Katodik
Inhibitor katodik adalah senyawa kimia yang mengendalikan korosi dengan cara menghambat salah satu tahap dari proses katodik, misalnya penangkapan gas oksigen (oxygen scavenger) atau pengikatan ion-ion hidrogen. Contoh inhibitor katodik adalah hidrazin, tannin, dan garam sulfit.
Ø  Inhibitor Campuran
Inhibitor campuran mengendalikan korosi dengan cara menghambat proses di katodik dan anodik secara bersamaan. Pada umumnya inhibitor komersial berfungsi ganda, yaitu sebagai inhibitor katodik dan anodik. Contoh inhibitor jenis ini adalah senyawa silikat, molibdat, dan fosfat.
Ø  Inhibitor Teradsorpsi
Inhibitor teradsorpsi umumnya senyawa organik yang dapat mengisolasi permukaan logam dari lingkungan korosif dengan cara membentuk film tipis yang teradsorpsi pada permukaan logam. Contoh jenis inhibitor ini adalah merkaptobenzotiazol dan 1,3,5,7–tetraaza–adamantane.





















BAB III
METODE PENELITIAN
A.      Alat dan Bahan
·         Gelas 10 buah
·         Paku  10 buah
·         Plastik (sebagai penutup gelas)
·          Minyak tanah
·          Air tidak dimasak
·         Air sudah dimasak
·         Cuka
·         Minyak goreng
·         Air laut
·         Air sumur
·         Air hujan
B.      Cara kerja
1.       Siapkan 10 buah gelas plastik yang telah dibersihkan.
2.       Isi 1 buah paku kedalam masing-masing gelas yang telah disiapkan. Setelah itu, masukkan larutan yang telah ditentukan dalam setiap gelas yang mana gelas 1 air tidak dimasak, gelas 2 air sudah dimasak, gelas 3 cuka, gelas 4 minyak tanah, gelas 5 minyak goreng, gelas 6 air laut, gelas 7 air sumur, gelas 8 air hujan, gelas 9 tanpa air, gelas 10 air tidak dimasak dalam keadaan tertutup (tanpa udara).
3.       Beri identitas pada setiap gelas plastik.
4.       Simpan ditempat yang aman.
5.       Mengamati perubahan paku selama 3 hari.


C.      Waktu dan Tempat
            Waktu             : Kamis-sabtu, 27-29 oktober 2016
            Tempat           : Kediaman Azzahra, Jalan Balana II No. 23


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A.    Hasil
NO
Jenis Air
Hari I
Hari II
Hari III
Pagi
Malam
Pagi
Malam
Pagi
Malam
1
Air tidak dimasak
+
+
+
+
+
+ +
2
Air sudah dimasak
+ +
+ +
+ +
+ +
+ + +
+ + +
3
Cuka
-
-
-
-
-
-
4
Minyak tanah
-
-
-
-
-
-
5
Minyak goreng
-
-
-
-
-
-
6
Air laut
+
+
+
+
+ +
+ +
7
Air sumur
+
+
+ +
+ +
+ + +
+ + +
8
Air hujan
+
+ +
+ +
+ +
+ +
+ + +
9
Gelas terbuka tanpa air
-
-
-
-
-
-
10
Gelas berisi air tertutup (tanpa udara)
+
+
+ +
+ +
+ +
+ +

Keterangan:
                -              : Tidak Berkarat
                +             : Sedikit Berkarat
                + +          : Agak Berkarat
                + + +      : Banyak Berkarat

B.     Pembahasan
             Dari hasil pengamatan selama 3 hari saya mendapati bahwa pada gelas plastik berisi cuka, minyak tanah, minyak goreng, tanpa air tidak terjadi korosi sedikit pun sedangkan pada gelas plastik yang berisi air mentah, air yang sudah dimasak, air laut, air sumur, air hujan, dan air yang ditutup tanpa udara) mengalami korosi pada paku dan membuat air pada paku tersebut berubah warna menjadi kuning.
            Setelah di bandingkan secara keseluruhan ternyata paku yang tidak terkena air tidak mengalami korosi.
           




BAB V
PENUTUP
1.     Kesimpulan
            Dari hasil praktikum tersebut saya dapat menyimpulkan bahwa paku yang tidak mengalami korosi terjadi pada paku yang berada pada gelas plastik berisi cuka, minyak tanah, minyak goreng, hal ini bisa terjadi karena tidak ada kontak langsung antara oksigen dan air.
           Kemudian dari praktek tersebut di benarkan bahwa salah satu faktor korosi adanya kontak antara udara dan air. Agar tidak terjadi korosi pada besi jangan sampai besi terkontaminasi dengan air atau larutan yang dapat menyebabkan oksidasi sehingga besi dapat berkarat. Jika kita menghindarkan besi dari air, maka besi tidak dapat bereaksi dengan oksigen yang  dapat membuatnya berkarat.
            Bila besi bersentuhan dengan oksigen dan air yang bersifat asam, yakni oksida-kosida berikut akan terjadi :
            Fe + ½ O2 + 2H+ → Fe2+ + H2O
Ion Fe teroksidasi membentuk Fe2+ atau Fe3+  sedangkan ion OH akan bereaksi dengan elektrolit yang ada di lingkungan biasanya dengan ion H+ dari reaksi air hujan dan dengan gas-gas pencemar (SOx,  NOx). Selanjutnya oleh oksigen di udara besi (II) di oksidasi dan sebagai hasil reaksi akhir terbentuk Fe2O3.x(H2O).
Faktor - Faktor yang Dapat Mempercepat Terjadinya Korosi antara lain, yaitu:
1.      Elektrolit
2.      Permukaan Besi
Faktor – Faktor yang Dapat Memperlambat Terjadinya Korosi antara lain, yaitu:
1.      Tempatkan di lingkungan yang kering dan tidak lembab.
2.      Usahakan untuk menutup tempat tersebut
3.      Tambahkan bahan-bahan yang bersifat dapat meyerap uap air yang terbentuk dalam wadah, semisal kapas atau kain yang kering. Di industri banyak digunakan silika gel sebagai bahan pengering untuk menyerap kelembaban.
Cara Mengatasi Korosi yaitu:
1.      Sacrificial Protection (Pengorbanan Anode)
2.      Cromium Plating (Pelapisan Dengan Kromium)
3.      Galvanisasi (Pelapisan Dengan Zink)
4.      Tin Plating (Pelapisan Dengan Timah)
5.      Dibalut Dengan Plastic
6.      Melumuri Dengan Oli Atau Minyak
7.      Dicat

2.     SARAN
            Setiap melakukan praktikum diharapkan untuk dapat memperhatikan prosedur kerja serta memperhatikan keselamatan kerja. Selain itu, diusahakan untuk memperbanyak referensi guna memudahkan kita baik dalam melakukan praktikum maupun dalam penyusunan laporan praktikum.
            Dengan adanya makalah ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi setiap pembaca dan dapat dijadikan sebagai referensi untuk lebih kreatif dalam penyusunan makalah selanjutnya.









3 komentar:

  1. Menjual berbagai macam jenis Chemical untuk cooling tower chiller dan waste water treatment plant untuk info lebih lanjut tentang produk ini bisa menghubungi saya di email tommy.transcal@gmail.com
    WA:081310849918
    Terima kasih

    BalasHapus
  2. Apabila Anda mempunyai kesulitan dalam pemakaian / penggunaan chemical , atau yang berhubungan dengan chemical,oli industri, jangan sungkan untuk menghubungi, kami akan memberikan solusi Chemical yang tepat kepada Anda,mengenai masalah yang berhubungan dengan chemical.Harga
    Terjangkau
    Cost saving
    Solusi
    Penawaran spesial
    Hemat biaya Energi dan listrik
    Mengurangi mikroba & menghilangkan lumut


    Salam,
    (Tommy.k)
    WA:081310849918
    Email: Tommy.transcal@gmail.com
    Management
    OUR SERVICE
    1.
    Coagulan, nutrisi dan bakteri
    Flokulan
    Boiler Chemical Cleaning
    Cooling tower Chemical Cleaning
    Chiller Chemical Cleaning
    AHU, Condensor Chemical Cleaning
    Chemical Maintenance
    Waste Water Treatment Plant Industrial & Domestic (WTP/WWTP/STP)
    Garment wash
    Eco Loundry
    Paper Chemical
    Textile Chemical
    Degreaser & Floor Cleaner Plant

    2.
    Oli industri
    Oli Hydrolik (penggunaan untuk segala jenis Hydrolik)
    Rust remover
    Coal & feul oil additive
    Cleaning Chemical
    Lubricant
    3.
    Other Chemical
    RO Chemical
    Hand sanitizer
    Disinfectant
    Evaporator
    Oli Grease
    Karung
    Synthetic PAO.. GENLUBRIC VG 68 C-PAO
    Zinc oxide
    Thinner
    Macam 2 lem
    Alat-alat listrik
    Packaging
    Pallet
    CAT COLD GALVANIZE COMPOUND K 404 CG
    Almunium

    BalasHapus